Monday, December 18, 2006

Tentang Seseorang

Jangan bertanya padaku tentang cinta
sebab aku tengah silau oleh kilaunya
Jangan bertanya padaku tentang kerinduan
sebab akulah pungguk yang tengah kelelahan

Tanyalah padaku tentang seraut wajah
yang kini tengah mengambang di angkasa kesunyianku
Atau tanyalah padaku tentang sebuah nama
yang kini aku tengah belajar mengeja huruf demi hurufnya

Saturday, December 16, 2006

Budaya Plastik

Kawan, aku mengiyakan, ketika suatu waktu kau katakan, "kenapa masa-masa dulu sepertinya lebih damai, lebih menentramkan, lebih simpel, nggak rumit.." Itulah yang menurutku mungkin juga dirasakan oleh sebagian banyak orang yang hidup di abad ini. Ada apa gerangan? Padahal saat ini kita tengah dimanja oleh kemajuan tehnologi. Semua serba praktis, mudah, dan instan! Tapi mengapa diam-diam ada yang kita rindukan, yaitu ketentraman batin dan ketenangan hidup. Atau lebih tepatnya meski kita tengah berada di jaman yang serba "terlayani", tapi batin kita tetap juga terasa kemrungsung, jiwa kita kering dan merasa kurang. Padahal bukankah dari jiwa sumber kebahagiaan itu? (Ah.. apa semua ini hanya perasaanku saja?)

Coba lihat, rumah-rumah kini sudah banyak berdiri megah, lengkap dengan perabotan di dalamnya yang serba mewah. Gedung-gedung, Pusat-pusat pertokoan, perbelanjaan, hiburan, maupun fasilitas-fasilitas lainnya kini sudah banyak bermunculan bak cendawan di musim hujan, seakan semuanya ingin memuaskan rasa kurang kita. Bahkan masjid-masjid, musholla-musholla sekarang pun sudah terdandani dengan apik, penuh hiasan-hiasan indah. Semua lantai dan dindingnya terbuat dari keramik ataupun marmer disertai ornamen-ornamen artistis yang seharusnya bisa menambah cita rasa beribadah. Tapi coba bandingkan dengan bangunan rumah-rumah, masjid-masjid, dan musholla-musholla (dulu sering disebut surau) jaman dahulu yang cuma terbuat dari papan, kayu, atau bahkan bambu. Mengapa auranya ya lebih "adem" rumah-rumah, masjid-masjid, dan surau-surau tempo dulu. Barangkali kini kita sudah "kemajon" dalam hal kemasan, tapi kita lupa memajukan isinya. Budaya plastik. Makanya nampak dari luar kita kelihatan gemebyar dan mewah, tapi kedamaian batin dan ketentraman jiwa nyaris sulit kita temukan.

Atmosfer itu kini telah berganti menjadi balon-balon kekosongan meski warna-warni. Dan manusia mulai melupakan eksistensi dirinya, saking sibuknya menumpuk kekayaan, memburu popularitas, mengejar nama besar, yang justru akan semakin menimbun dan mengubur dalam-dalam tujuan sejati hidupnya.

Saturday, December 09, 2006

Aku Ingin

Aku ingin punya jiwa
sebab aku ingin menjadi manusia

Aku ingin mengumpulkan bekal
sebab suatu saat aku akan meninggal

Aku ingin menjadi diriku sendiri
agar tak terjajah oleh rasa iri

Friday, December 08, 2006

Alangkah Indah

Alangkah indah musim hujan
ia menumbuhkan bunga-bunga mekar
suara-suara jengkerik di malam hari
kabut tipis di pagi hari
dan senandung ritmis yang memantul di atap-atap
meski matahari hilang tersembunyi

Alangkah indah cinta
ia menghadirkan rindu yang menari-nari
getar yang tak terkata
pelangi yang tak terlukis
meski tanpa hadirmu di sini

Hujan dan dirimu
berpadu
membawa harmoni dalam sunyiku