Budaya Plastik
Kawan, aku mengiyakan, ketika suatu waktu kau katakan, "kenapa masa-masa dulu sepertinya lebih damai, lebih menentramkan, lebih simpel, nggak rumit.." Itulah yang menurutku mungkin juga dirasakan oleh sebagian banyak orang yang hidup di abad ini. Ada apa gerangan? Padahal saat ini kita tengah dimanja oleh kemajuan tehnologi. Semua serba praktis, mudah, dan instan! Tapi mengapa diam-diam ada yang kita rindukan, yaitu ketentraman batin dan ketenangan hidup. Atau lebih tepatnya meski kita tengah berada di jaman yang serba "terlayani", tapi batin kita tetap juga terasa kemrungsung, jiwa kita kering dan merasa kurang. Padahal bukankah dari jiwa sumber kebahagiaan itu? (Ah.. apa semua ini hanya perasaanku saja?)
Coba lihat, rumah-rumah kini sudah banyak berdiri megah, lengkap dengan perabotan di dalamnya yang serba mewah. Gedung-gedung, Pusat-pusat pertokoan, perbelanjaan, hiburan, maupun fasilitas-fasilitas lainnya kini sudah banyak bermunculan bak cendawan di musim hujan, seakan semuanya ingin memuaskan rasa kurang kita. Bahkan masjid-masjid, musholla-musholla sekarang pun sudah terdandani dengan apik, penuh hiasan-hiasan indah. Semua lantai dan dindingnya terbuat dari keramik ataupun marmer disertai ornamen-ornamen artistis yang seharusnya bisa menambah cita rasa beribadah. Tapi coba bandingkan dengan bangunan rumah-rumah, masjid-masjid, dan musholla-musholla (dulu sering disebut surau) jaman dahulu yang cuma terbuat dari papan, kayu, atau bahkan bambu. Mengapa auranya ya lebih "adem" rumah-rumah, masjid-masjid, dan surau-surau tempo dulu. Barangkali kini kita sudah "kemajon" dalam hal kemasan, tapi kita lupa memajukan isinya. Budaya plastik. Makanya nampak dari luar kita kelihatan gemebyar dan mewah, tapi kedamaian batin dan ketentraman jiwa nyaris sulit kita temukan.
Atmosfer itu kini telah berganti menjadi balon-balon kekosongan meski warna-warni. Dan manusia mulai melupakan eksistensi dirinya, saking sibuknya menumpuk kekayaan, memburu popularitas, mengejar nama besar, yang justru akan semakin menimbun dan mengubur dalam-dalam tujuan sejati hidupnya.
Coba lihat, rumah-rumah kini sudah banyak berdiri megah, lengkap dengan perabotan di dalamnya yang serba mewah. Gedung-gedung, Pusat-pusat pertokoan, perbelanjaan, hiburan, maupun fasilitas-fasilitas lainnya kini sudah banyak bermunculan bak cendawan di musim hujan, seakan semuanya ingin memuaskan rasa kurang kita. Bahkan masjid-masjid, musholla-musholla sekarang pun sudah terdandani dengan apik, penuh hiasan-hiasan indah. Semua lantai dan dindingnya terbuat dari keramik ataupun marmer disertai ornamen-ornamen artistis yang seharusnya bisa menambah cita rasa beribadah. Tapi coba bandingkan dengan bangunan rumah-rumah, masjid-masjid, dan musholla-musholla (dulu sering disebut surau) jaman dahulu yang cuma terbuat dari papan, kayu, atau bahkan bambu. Mengapa auranya ya lebih "adem" rumah-rumah, masjid-masjid, dan surau-surau tempo dulu. Barangkali kini kita sudah "kemajon" dalam hal kemasan, tapi kita lupa memajukan isinya. Budaya plastik. Makanya nampak dari luar kita kelihatan gemebyar dan mewah, tapi kedamaian batin dan ketentraman jiwa nyaris sulit kita temukan.
Atmosfer itu kini telah berganti menjadi balon-balon kekosongan meski warna-warni. Dan manusia mulai melupakan eksistensi dirinya, saking sibuknya menumpuk kekayaan, memburu popularitas, mengejar nama besar, yang justru akan semakin menimbun dan mengubur dalam-dalam tujuan sejati hidupnya.

2 Comments:
memang sekarang semuanya terlihat indah..tapi buat apa yah kalo di dalamnyaterasa kosong dan hampa..tak berisi :)
iyah jg, klo barang kesannya penuh tp ternyata ringan aja
Post a Comment
<< Home