Permissive Society
Makin sedih aja menyaksikan gejala-gejala perubahan jaman akhir-akhir ini. Banyak terjadi pergeseran- pergeseran nilai moral dan budaya di sana-sini. Bahkan bisa dikatakan tengah terjadi "gempa" pada ranah keduanya. Beberapa tahun yang lalu sebuah LSM di Yogyakarta pernah mengeluarkan hasil survey yang sangat mengagetkan dan mungkin sempat membuat ketar-ketir para orang tua yang mengkuliahkan anak-anaknya di kota pelajar itu. Hasil survey tersebut mengungkapkan bahwa lebih dari 90% mahasiswi di sana sudah tidak virgin lagi! Cuma sayangnya dari hasil survey yang didapat tersebut tidak dijelaskan apakah hilangnya keperawanan para mahasiswi itu disebabkan karena hubungan suka sama suka (kumpul kebo) atau yang lainnya. Namun terlepas dari itu, kenyataan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita saat ini adalah makin maraknya kasus MBA (Married by Accident), suatu "kecelakaan" yang terjadi akibat pergaulan bebas dan makin lemahnya kontrol dari masyarakat. Dari data dan fakta yang ada bisa dikatakan fenomena ini cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahunnya, ck...ck...ck... bikin kita mengelus dada (eit..tapi jangan dada orang lain yang dielus, dada sendiri aja! he..he..)
Yang bikin kita tambah ngelus dada lagi, rasa wirang atau malu para pelaku MBA ini sudah makin hilang. Mungkin karena mereka menganggap hal tersebut sudah tidak merupakan aib yang perlu ditutup-tutupi, bahkan tak perlu dihindari lagi. Karena saking seringnya terjadi, masyarakatpun akhirnya dengan enteng mengatakan, "ah..biasa, sudah lumrah!". Lhadalah..kok bilangnya gitu sih! Satu bukti, bahwa masyarakat kita sudah terjangkiti virus "permissive society" alias masyarakat yang serba boleh. Kalau sudah begini, hal-hal yang dulu dianggap tabu dan dilarang hanya tinggal menunggu waktu untuk "diperbolehkan". Naudzubillah mindzalik.
Ah, jadi teringat kata-kata Pak Abdul Djamil, rektor IAIN Walisongo, dalam tulisannya di sebuah kolom harian SUARA MERDEKA, "Dunia memang sudah sungsang. Dan sepertinya manusia sudah tak bisa lagi membetulkannya.."
Yang bikin kita tambah ngelus dada lagi, rasa wirang atau malu para pelaku MBA ini sudah makin hilang. Mungkin karena mereka menganggap hal tersebut sudah tidak merupakan aib yang perlu ditutup-tutupi, bahkan tak perlu dihindari lagi. Karena saking seringnya terjadi, masyarakatpun akhirnya dengan enteng mengatakan, "ah..biasa, sudah lumrah!". Lhadalah..kok bilangnya gitu sih! Satu bukti, bahwa masyarakat kita sudah terjangkiti virus "permissive society" alias masyarakat yang serba boleh. Kalau sudah begini, hal-hal yang dulu dianggap tabu dan dilarang hanya tinggal menunggu waktu untuk "diperbolehkan". Naudzubillah mindzalik.
Ah, jadi teringat kata-kata Pak Abdul Djamil, rektor IAIN Walisongo, dalam tulisannya di sebuah kolom harian SUARA MERDEKA, "Dunia memang sudah sungsang. Dan sepertinya manusia sudah tak bisa lagi membetulkannya.."
